Mengganti Piring Pecah Dengan Kebutuhan Seks

kenangan.xyz – Ketika Ady mendapat tugas berasal dari kantornya untuk berikan Traning kepada kantor cabang yang ada di desa-desa, dia bertemu bersama wanita setengah baya yang telah bersuami berasal dari sebuah desa yang dikunjunginya. Dari pertemuan itu terhadap akhirnya Ady-pun bisa terkait sex bersama wanita setengah baya yang bernama Bu Isna. Ingin Tahu kelanjutanya para pembaca ??? segera saja simak cerita di bawah ini !!!
Cerita Sex ini adalah pengalaman pribadi dan pengalaman pertamaku versetubuh bersama istri orang lain. Kejadian ini berlangsung berlangsung kira-kira 6 bulan yang lalu. Kisah ini berawal berasal dari disaat saya ditugaskan oleh kantor untuk memberikan suatu training untuk beberapa cabang di tempat di Jateng (Jawa Tengah). Untuk kasus akomodasi telah disajikan oleh kantor.
Cerita Dewasa Kutukar Piring Pecah Dengan Sex Part 1
Walaupun akomodasi telah disajikan oleh pihak kantor, kadang-kadang saya wajib tidur dikantor cabang yang ada di suatu desa. Sampai terhadap suatu hari disaat saya menginap di desa B, terhadap pas itu pagi harinya adalah hari Sabtu. Pada hari itu ternyata merupakan hari pasaran (suatu pasar yang bukanya terhadap hari-hari tertentu) untuk desa yang kebetulan pas itu saya menginap.
Karena hari pasaran itu merupakan hal yang unik bagiku, terhadap pas itu akupun tidak melepas peluang untuk menyaksikan dan datang ke keramaian di pasar itu. Sungguh hal yang unik dan asik sekali apabila diperhatikan, dikarenakan disana ada bermacam barang dagangan yang jarang saya temui di kota tempatku tinggal. Pada pas itu tanpa sengaja saya menabrak seorang ibu-ibu yang tengah berbelanja.
Saat itu saya terasa terlampau bersalah sekali, dikarenakan kecerobohanku seluruh barang belanjaan ibu itu jadi rusak dan hancur. Karena saya terasa bersalah maka saya bertanggung jawab untuk mengganti barang yang telah saya rusakan tanpa sengaja. Sebut saja nama Ibu-ibu itu Bu Asih, terkecuali saya perkirakan umur ibu itu kisaran 40 tahun.
Saat itu setelah sedikit berbincang bersama Bu Asih-pun, terhadap akhirnya beliau memberitahukan letak rumahnya, dan pas itu saya berjanji bakal singgah kerumahnya terhadap sore nanti untuk mengganti sebuah piring yang saya pecahkan. Singkat cerita hari-pun telah sore, pas itu setelah saya mandi jam menunjukan pukul 16.00 sore. Setelah saya mandi sesudah itu saya segera bergegas berangkat ke tempat tinggal Bu Asih.
Sesampainya disana ternyata tempat tinggal Bu Asih terletak di ujung desa tempat saya meninap dan kondisi sepi sekali. Sesapainya disana saya ditemui oleh seorang laki-laki yang bernama Pak Darman suami Bu Asih yang saya perkirakan beliau berusia 52 tahun. Saat itu Bu Asih-pun menyatakan maksud kedatanganku terhadap suaminya, setelah menyatakan maksud keda tanganku, terjadilah percakapan oleh kita bertiga yang lama-lamaanpun jadi akrab.
Seperti terhadap umumnya, tradisi orang desa apabila ada tamu tetap disuguhkan minuman dan cemilan khas desanya. Tidak lama setelah berbincang bu Aish-pun pergi kedapur dan kira-kira setelah 10 menit keluarlah Bu Asih mempunyai minuman dan kue. Saat itu tanpa sengaja mataku tertuju terhadap BU Asih. Entah mengapa pas itu saya menyimak dan bergejolaklah birahi saya disaat menyaksikan Bu Asih memakai kebaya yang sedikit ketat dan rambut yang masih basah setelah mandi.
Saat itu terlampau terlihat kecantikan yang khas berasal dari wanita desa itu, biarpun dia telah berusia 40 tahun, tetapi kulitnya terlihat kencang dan begitu pula bersama tubhnya. Hal yang paling membuat mataku tertagun adalah disaat saya menyaksikan belahan buah dadanya yang terlihat montok sekali disaat dia membungkuk pas memberikan saya kue dan minuman khas desa itu.
Tidak terasa kita berbincang hingga malam hari. Mereka terlampau baik sekali kepada aku, sampai-sampai pas itu mereka memaksa saya untuk berhimpun makan malam dirumah mereka. Setelah beberapa pas kita makan, pas itu Pak Darman berpamitan untuk menghadiri pertemuan di desa sebelah mengenai pengairan sawah. Kini dirumah Bu Asih cuma ada saya dan Bu Asih.
Saat itu kondisi tempat tinggal berikut sepi, tak sekedar letak rumahnya yang ada di ujung desa, anak-anak Bu Asih-pun tengah tidak ada dirumah. Anak pertama yang duduk di kelas 1 SMU tengah kemah, dan anak ke-2 yang masih SMP tengah belajar kelompok dirumah temannya. Sungguh hal yang terlampau kebetulan terhadap hari itu. Sepanjang penuturan kami, mataku tidak luput berasal dari buah dada dan tubuh Bu Asih.
Oh iya umur Bu asih ini lebih tua 9 tahun dariku. Lanjut. Sampai pas itu Bu asih-pun nampaknya tahu terkecuali saya melihatnya,
“ Ehemmm… berasal dari tadi kayaknya Mas Ady menyimak saya ya ??? sesungguhnya Mas Ady menyaksikan apa saya sih? ”, ucapnya.
Saat itu saya sempat tidak enak disaat saya ditegur oleh Bu Asih. Dengan muka sedikit malu aku-pun berbicara jujur kepada Bu Asih terkecuali saya kagum sekali menyaksikan kecantikan Bu Asih. Lalu,
“ Mas ini bisa aja deh, orang kampung kayak saya kok dibilang cantik. Kalau dibandingkan dngan orang kota pasti banyak yang lebih berasal dari saya Mas ”, ujar Bu Asih bersama muka memerah dikarenakan malu bersama pujianku.
“ Memang iya sih bu, tetapi saya kagum sekali mirip Bu Asih ini, biarpun telah mempunyai 2 anak, tubuh ibu masih saja terlihat singset dan kencang. Apa ulang … ? ”, ucapku terhenti dikarenakan ragu untuk mengatakanya.
Saat itu Bu Asih tetap mendesakku agar tetap meneruskan perkataanku,
“ Kog berhenti ngomongnya Mas, Ayo terusin aja, jangan membuat Ibu penasaran !!! ”, ucaonya mendesaku.
“ Baiklah terkecuali Ibu memaksa saya, pada mulanya saya minta maaf ya Bu. Apalagi bagian buah dada Ibu, terlihat masih kencang dan besar Bu ? ”, ucapku bersama sedikit rasa risi dan takut.
Saat itu Bu Asih terlihat malu sembari berusaha menutup buah dadanya bersama tangannya. Sampai terhadap akhirnya penuturan kita mengarah ke hal yang berbau pornografi,
“ Oh iya Mas, Ngomong-ngomong Mas Ady telah mempunyai anak berapa dan istri umur berapa ? ”, tanya Bu Asih berbasa-basi.
“ Saya baru 1 Bu, anak saya berumur 3 tahun, istri saya berumur 28 tahun saya sendiri berumur 31 tahun Bu ”, jawabku terhadap Bu Asih.
“ Berarti pertalian Mas Ady ulang panas-panasnya dong, hhe… ”,ucapnya agak menjurus.
“ Maksudnya panas apanya Bu ? ”, ucapku sedikit memancng.
Saat itu berpura-pura tidak tahu bersama apa yang dimaksu Bu Asih, dikarenakan pas itu saya berusaha memancing percakapan ke arah yang lebih Hot dan Mesum. Jujur saja sepanjang penuturan kami, saya terlampau bergairah sekali dan saya melacak cara bagaimana agar saya bisa bersetubuh Bu Asih ini. Lalu,
“ Mas Ady ini bisa aja deh, udahlah nggak usah berlagak nggak tau, hhe… ? ”, ucap Bu Asih menyangkal perkataanku tadi.
“ Hhe… iya-iya saya tahu BU, Emmm… ngomong-ngomong Ibu termasuk tampak masih segar, dan begituanya pasti ibu termasuk kuat dan hot ? ”, ucapku tetap memancing.
Namun setelah berbicara seperti itu Bu Asih terlihat sedih, pas itu saya terasa tidak enak agar saya menanyakan padanya,
“ Hlo… kok Bu Asih tampak sedih sih, maaf bu ya terkecuali saya ada salah kata, saya tidak berniat Bu ? ”, ucapku terasa salah.
Saya kira perkataan saya tadi menyinggung Bu Asih, ternyata setelah Bu Asih bercerita bahwa keperluan sex-nya sejak 2 tahun tidak ulang didapatka-nya. Bu Asih menerangkan bahwa Pak Darman telah impoten, Pak Darman bisa begitu akibat pernah beliau jatuh berasal dari pohon kelapa, dan kejantanannya telah tidak bisa ereksi lagi,
“ Oh begitu rupanya ya Bu, pada mulanya saya minta maaf ya Bu,. Oh iya padahal menurut saya orang di umur Bu Asih sekarang inikan tengah terhadap masa puber ke 2 Bu ? ”, ucapku melacak peluang untuk kenikmatan, hha.
“ Ya begitulah Mas, tetapi berkenan gimana ulang dikarenakan ayah begitu sekarang, huhh… ”, ucapnya penuh kekecewaan.
“ Lalu ika Bu Asih ulang pingin begituan Ibu berbuat apa? ”, ucapku.
“ Ya nggak berbuat apa-apalah Mas. Paling saya melacak aktivitas di ladang agar malamnya capek dan saya bisa tertidur tanpa wajib meikirkan hal seperti itu? ”, ucapnya menerangkan kepadaku.
“ Waduh, terkecuali saya bisa pusing tuh Bu. Karena baru 5 hari pisah bersama istri, saya telah nggak tahan ”, ucapku sambil berganti mendekat ke arah Bu Asih.
“ Mas Ady sih gampang, kan di hotel pasti termasuk nyediain cewek bayaran bagi para tamunya ? ”, ucapnya.
Karena pas itu saya terlampau repot memandangi Bu Asih,
“ Mas Ady kok gak dengerin saya ngomong sih ”, ucap Bu Asih sambil menepuk pahaku.
Karena menepuk pahaku, pas itu tangan Bu Asih saya pegang sambil berkata,
“ Habis ada panorama yang lebih bagus ”,ucapku sembari memandangi belahan buah dada Bu Asih.
“ Ahhhh… Mas Ady ini nakal deh ? ”, ucap Bu Asih.
Akan tetapi tangannya tatap saya pegang sambil saya remas, dikarenakan diam saja artinya dia tidak keberatan. Kesempatan nih, pikirku pas itu. kemuian tanganku-pun berubah kepahanya,
“ Jangan Mas, jangan berbuat ini mirip saya !!! ”, ucap Bu Asih menolak tetapi cuma basi.
Pada akhirnya saya beranikan untuk menciumnya, Bu Asih sempat memundurkan untutk kepalanya berusaha untuk menolak. Namun setelah saya pegang ke-2 tangannya sambil menatap ke-2 matanya, terhadap akhirnya Bu Asih memejamkan matanya sambil mulutnya sedikit terbuka. Lau aku-pun mencium bibirnya perlahan, dan lama kelamaan Bu Asih memberikan tanggapan bersama membalas ciumanku.
Saat itu tanganku tidak bisa diam melepas payudara yang begitu menggairahkan itu, secara perlahan saya terasa memegang payudaranya sembari sedikit meremas,
“ Uhhh… Ssss… Ahhhh… Ja.. Jangan Mas… Ahhh… ”, ucapnya menolak tetapi mendesah.
Saat itu tangan Bu Asih malah menekankan tanganku ke payudaranya, bahkan ciumanku-pun tetap turun ke lehernya sambil berusaha memasukkan tangan ke belahan dadanya. Hal itu membuat Bu Asih makin lama mendesah,
“ Ahhhh… Uhhhh… tetap Mas, nikmat sekali Mas… Ahhhh… ”, ucap Bu Asih diiringi desahnya.
Mendengar desahan itu saya makin lama bergairah saja. Saat itu mulailah melepas kancing baju Bu Asih langsung,
“ Tolong jangan teruskan Mas… ? ”, ucap Bu Asih sedikit menolak.
“ Sudahlah Bu, saya telah gak bisa nahan bu, tolonglah !!! lagian kita sama-sama butuhkan Bu? ”, ucapku tetap mendesak.
Pada akhirnya Bu Asih-pun menyerah dan melepas mulutku menyedot puting susunya yang pas itu makin lama menengeras saja,
“ Ssssss… Ahhhh… Ouhhhh… ahhhh Mas nikmat Mas, tetap Mas? ”, ucapnya desahnya nikmat.
Saat itu pas tangan kanan meremas payudara sebelah kanan, mulutkupun tetap menjilat dan menyedot payudara yang sebelah kiri,
“ Nikmat Mas… ahhhhh… Udah Mas… Ibu telah Nggak tahan… ”, ucapnya.
Sembari berbicara seperti itu, tidak kusangka tangan Bu Asih malah mengarahkan tanganku ke arah pahanya, entah kapan kebayanya telah disingkapkan. Kini tanganku-pun segera ke gundukan kewanitaan-nya yang masih tertutp cd, dan terasa jembutnya terlihat berasal dari samping celana dalam-nya. Saat itu tanganku tetap menggosok-gosok kewanitaan Bu Asih,
“ Ahhhh… ahhhh… ahhhh Mas tetap Mas terus… enak Sekali… Ahhhh… ? ”, deahnya semkain menjadi.
Akhir bersama seijin Bu Asih celana di dalam itu saya pelorotkan, agar terpampanglah kewanitaan Bu Asih yang menggunung dan empuk tersebut. Dengan bernafsu segera saya gesek kewanitaan berikut dan sambil berusaha mendapatkan clitoris-nya, tersedengar Bu Asih makin lama mendesah tidak karuan… .
“ Mas… Ouhhhh enaaaaak Mas… Ouhhh… ”, desahnya lagi.
Saat itu ciumanku tetap bergerak turun, hingga terhadap akhirnya terciumlah bau khas kewanitaan berasal dari seorang wanita setengah baya ini yang membuat saya makin lama bernafsu saja. Setelah itu saya segera menjilat kewanitaan Bu Asih,
“ Ahhh berhenti Mas… jangannn… Ouhhhh… ? ”, ucap Bu Asih setelah saya menjilat kewanitaan-nya.
Saat itu saya sejenak berhenti dan menanyakan terhadap Bu Asih,
“ kenapa wajib berhenti Bu? ”, ucapku.
“ Memangnya Mas Ady tidak jijik ya menjilat kewanitaan saya ”, ucap Bu Asih.