Pantat Gadis Cantik Yang Montok Membuat Ku Bergairah

Pantat Gadis Cantik Yang Montok Membuat Ku Bergairah

Pantat
Pantat Gadis Cantik Yang Montok Membuat Ku Bergairah

kenangan.xyz – Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu ditunaikan sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil penentuan OSIS yang baru. layaknya tahun-tahun pada mulanya penentuan ditujukan sebagai regenerasi dan anak-anak kelas 3 sudah tidak boleh kembali dipilih jadi pengurus, kalau beberapa orang pengurus inti yang bakalan “naik pangkat” jadi penasihat.

Usai rapat, saya bergegas ingin segera pulang, soalnya sorenya ada acara teratur bulanan: pulang ke tempat tinggal ortu di kampung. Belum sempat aku nampak dari pintu ruangan rapat, nada nyaring cewek memanggilku.

“Didik .. “ saya menoleh, ternyata Sarah yang segera melambai supaya aku mendekat. “Dik, jangan pulang dulu hadir sesuatu yang pengin saya omongin sama juga kamu,” kata Sarah sesudah saya mendekat.

“Tapi Rah, sore ini saya harap ke kampung. dapat nggak dapet bis andaikan kesorean,” jawabku.

“Cuman sebentar kok Dik. anda tunggu pernah ya, saya mberesin ini dulu,” Sarah agak memaksaku sambil membenahi catatan-catatan rapat. selanjutnya saya duduk kembali.

“Dik, kamu pacaran identik Nita ya?” tanya Sarah sesudah ruangan sepi, tinggal kami berdua. aku baru memahami Sarah sengaja melama-lamakan membenahi catatan rapat sehingga ada peluang ngomong berdua denganku.

“Emangnya, hadir apa sih?” saya balik bertanya.

“Enggak ada apa-apa sih .. “ Sarah berhenti sejenak. “Emmm, pengin nanya aja.”

“Enggak kok, aku nggak pacaran sama juga Nita,” jawabku datar.

“Ah, ERA Temen-temen banyak yang paham kok, andaikan kamu puas berjalan bareng persis Nita, kerap ke tempat tinggal Nita,” kata Sarah lagi.

“Jalan bareng kan nggak jadi pertanda pacaran tho,” bantahku.

“Paling terhitung memanfaatkan alasan kuno ‘Cuma temenan’,” Sarah bicara sambil mencibir, sehingga wajahnya terlihat lucu, yang membuatku ketawa. “Cowok di mana-mana persis aja, banyak bo’ongnya.”

“Ya terserah anda sih andaikan kamu nganggep aku bohong. Yang paham telah saya bilang bahwa saya nggak pacaran persis Nita.”

Aku sama sekali tidak bohong pada Sarah, gara-gara saya sama juga Nita benar-benar telah punya komitmen untuk ‘tidak ada komitmen’. Maksudnya, hubunganku bersama dengan Nita hanyalah sekedar untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. hal itu yang kujelaskan seperlunya pada Sarah, pastinya tanpa menyinggung soal ‘seks’ yang lantas menu utama hubunganku bersama Nita.

“Nanti malem, mau nggak anda ke rumahku?” tanya Nita sambil melangkah terlihat ruangan bersamaku.

“Kan telah kubilang tadi, aku mau pulang ke tempat tinggal ortu nanti,” jawabku.

“Ke rumah ortu apa ke rumah Nita?” tanya Sarah bersama dengan nada menyelidik dan menggoda.

“Kamu ingin percaya atau tidak sih, terserah. Emangnya kenapa sih, kok nyinggung-nyinggung Nita terus?” aku gantian bertanya.

“Enggak kok, nggak kenapa-kenapa,” elak Sarah. selanjutnya kami jalan bersama sambil ngobrol soal-soal ringan yang lain. saya dan Sarahpun berpisah di gerbang sekolah. Nita sudah ditunggu sopirnya, namun saya langsung menuju halte. sebelum saat berpisah, saya sempat berjanji untuk main ke tempat tinggal Nita lain waktu.

Diam-diam saya terasa geli. matang malam minggu itu jalan-jalan sama juga Sarah wajib ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi Jangankan untuk ML, cuman menciumpun rasanya nyaris mustahil.

Sebenarnya saya agak ogah-ogahan jalan-jalan type begitu, tapi rasanya tidak mungkin terhitung untuk membatalkan begitu saja. Rupanya aturan orang tua Sarah yang ketat itu, bakalan bikin hubunganku bersama dengan Sarah jadi semata-mata roman-romanan saja. Praktis acara pada disaat itu hanya jalan-jalan ke Mall dan makan di ‘food court’.

Di lagi tengah rasa bete itu saya mencoba menghibur diri bersama mencuri-curi pandang antara Mbak Viona, baik antara kala makan ataupun berjalan Mbak Viona, adalah kakak sulung Sarah yang kuliah di keliru satu perguruan tinggi kondang di kota ‘Y’.

Dia pulang tiap-tiap 2 minggu atau sebulan sekali. persis sepertiku, hanya beda level. apabila Mbak Viona kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, tetapi aku sekolah di kotamadya mudiknya ke kota kecamatan.

Wajah Mbak Viona sendiri sebatas masuk kategori lumayan Agak jauh dibandingkan Sarah. Kuperhatikan wajah Mbak Viona sama ayahnya tetapi Sarah sama ibunya. sekedar Mbak Viona ini cukup tinggi, tidak seperti Sarah yang pendek, meski sama-sama agak gemuk.

Kuperhatikan daya tarik seksual Mbak Viona ada pada toketnya. cukup gede dan tampak menantang seandainya diamati berasal dari samping, sehingga rasa-rasanya pengen tanganku menyusup ke balik T-Shirtnya yang longgar itu. saya jadi ingat Nita. Ah, seandainya tidak saya tidak ke tempat tinggal Sarah, pasti saya udah melayang bareng Nita.

Saat Sarah ke toilet, Mbak Viona mendekatiku.

“Heh, awas kamu jangan macem-macem sama Sarah!” katanya tiba-tiba sambil melihat tajam padaku.

“Maksud Mbak, apa?” aku tanya tidak mengerti.

“Sarah itu anak lugu, tetapi kamu jangan sekali-kali manfaatin keluguan dia!” katanya lagi.

“Ini hadir apa sih Mbak?” saya jadi bingung.

“Alah, pura-pura. berasal dari wajahmu itu nampak andaikata anda berasal dari tadi bete,” saya cuman diam sambil menjadi heran sebab apa yang dikatakan Mbak Viona itu betul.

“Kamu bete, dikarenakan malem ini kamu nggak bisa ngapa-ngapain persis Sarah, ya kan?” aku semata-mata tersenyum, Mbak Viona yang tadinya tutur katanya halus dan ramah berganti layaknya itu.

“Eh, tambah senyam-senyum,” hardiknya sambil melotot.

“Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Viona ini lucu,” kataku.

“Lucu kepalamu,” Mbak Viona sewot.

“Ya luculah. Kukira Mbak Viona ini lembut kayak Sarah, ternyata galak juga!” saya tersenyum menggodanya.

“Ih, senyam-senyum mlulu. Senyummu itu senyum mesum mengetahui kayak matamu itu terhitung mata mesum!” Mbak Viona semakin naik, wajahnya sedikit memerah.

“Mbak cakep deh apabila marah-marah,” jadi Mbak Viona marah, makin terasa pula aku menggodanya.

“Denger ya, saya nggak kembali bercanda. apabila kamu berani macem-macem sama juga adikku, aku bisa bunuh kamu!” kali ini Mbak Viona nampak memanglah marah.

Akhirnya kusudahi terhitung menggodanya lihat Mbak Viona layaknya itu, lebih-lebih pengunjung mall yang lain terkadang menoleh pada kami Kuceritakan sedikit berkaitan hubunganku dengan Sarah selama ini, sampai pada acara ‘apel’ pada kala itu.

“Kalau soal pengin ngapa-ngapain, yah, itu sih awalannya benar-benar datang akan tetapi sekarang sudah lenyap. Sarah sepertinya bukan cewek yang tepat untuk diajak ngapa-ngapain, dia mah penginnya roman-romanan aja,” kataku mengakhiri penjelasanku.

“Kamu ini ngomongnya terlampau terus-terang ya?” nada Mbak Viona udah terasa normal kembali.

“Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu,” kataku lagi.

“Tapi .. kenapa tadi persis aku anda beraninya lirak-lirik aja. Nggak berani terus-terang mandang langsung?”

Aku berpikir sejenak mencerna maksud pertanyaan Mbak Viona itu. kelanjutannya aku sadari rupanya Mbak Viona paham apabila saya diam-diam sering memperhatikan dia.

“Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbak-nya harap diembat juga,” kataku sambil garuk-garuk kepala.

Setelah itu Sarah terlihat dan dilanjutkan acara membeli di dept. store di mall itu. selama menemani kakak beradik itu, saya jadi kerap mendekati Mbak Viona jika kulihat Sarah sibuk memilih-milih baju aku menjadi lancar menggoda Mbak Viona.

Hampir jam 10 malam kami baru keluar dari mall. lumayan pegal-pegal kaki ini menemani dua cewek jalan-jalan dan belanja sebelum saat keluar berasal dari mall Mbak Viona sempat memberiku sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Sarah.

“Baca di rumah,” bisiknya.

Aku lega menonton Mbak Viona hadir ke counter bus PATAS AC seperti yang diberitahukannya melewati sobekan kertas. Kulirik arloji membuktikan jam setengah 9, berarti Mbak Viona terlambat setengah jam.

“Sori terlambat. harus ngrayu Papa-Mama dulu sebelum akan dikasih balik pagi-pagi,” Mbak Viona langsung ngerocos sambil meletakkan hand-bag-nya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong. sesaat saya tak berkedip memandanginya.

Mbak Viona terlihat amat feminin di dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang terhitung berwarna hitam. jelas saya pandangi, Mbak Viona memencet hidungku sambil ngomel-ngomel kecil, dan kita pun tertawa. sekedar kurang lebih sepuluh menit kita menunggu sebelum saat bus berangkat.

Dalam perjalanan di bus, aku tak tahan menonton Mbak Viona yang merem sambil bertopang Tanganku pun menjadi mengelu-elus tangannya. Mbak Viona membuka mata, kemudian bangun dari sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.

“Gimana, Mbaknya mau di-embat juga?” ledeknya sambil berbisik.

“Kan lain jurusan,” aku membela diri. “Adik-nya jurusan roman-romanan, Mbak-nya jurusan … “ saya tidak melanjutkan kata-kataku, tangan Mbak Viona sudah lebih dulu memencet hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran sepanjang perjalanan.

Yang disebut kamar kos oleh Mbak Viona ternyata sebuah faviliun. Faviliun yang ditinggali Mbak Viona kecil tetapi terlihat lux, mendapat dukungan lingkungannya yang juga perumahan mewah.

“Kok bengong, ayo masuk,” Mbak Viona mencubit lenganku. “Peraturan di sini hanya satu, dilarang mengganggu tetangga. lantas cuek adalah langkah paling baik.”

Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet area depan, sementara setelah letakkan hand-bag-nya di dekat kakiku, Mbak Viona langsung menuju kulkas yang sepertinya tetap on.

“Nih, minum pernah habis itu mandi,” kata Mbak Viona sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.

“Kan tadi udah mandi Mbak,” kataku.

“Ih, jorok. Males saya deket-deket orang jorok,” Mbak Viona tampak cemberut. “Kalau gitu, aku duluan mandi,” katanya sambil menyambar hand-bag dan menuju kamar. aku melihat Mbak Viona tidak masuk kamar, tetapi semata-mata membuka pintu dan memasukkan hand-bag-nya. setelah itu dia berjalan ke belakang ke arah kamar mandi.

“Mbak,” Mbak Viona berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. “Aku mau mandi, tetapi bareng ya?”

“Ih, maunya .. “ Mbak Viona menjawab sambil tersenyum. saksikan itu aku segera bangkit dan berlari ke arah Mbak Viona. langsung kupeluk dia berasal dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi. Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusap-usap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Terdengar desahan Mbak Viona, sebelum saat dia memutar badan menghadapku. ke-2 tangannya dilingkarkan ke leherku.

“Katanya harap mandi?” sesudah berkata itu, lagi-lagi hidungku lantas sasaran, dipencet dan ditariknya agar merasa agak panas. setelah itu diangkatnya kaosku, dilepaskannya agar saya bertelanjang dada. lantas tangannya langsung membuka kancing dan retsluiting jeans-ku.

Lumayan trampil Mbak Viona melakukannya, sepertinya udah jadi biasa seterusnya aku sendiri yang melakukannya hingga aku sempurna telanjang bulat di depan Mbak Viona.

“Ih, nakal,” kata Mbak Viona sambil menyentil rudalku yang terayun-ayun akibat baru tegang separo.

“Sakit Mbak,” aku meringis.

“Biarin,” kata Mbak Viona yang diteruskan dengan melepas blouse-nya kemudian kaos hitamnya, sehingga proporsi atasnya tinggal BH warna hitam yang tetap dipakainya. aku tak berkedip memandangi sepasang toket Mbak Viona yang masih tertutup BH, dan Mbak Viona tidak melanjutkan membiarkan pakainnya semua sambil tersenyum menggoda padaku.

Birahi benar-benar udah tak dapat kutahan. segera kuraih dan naikkan BH-nya, agar sepasang toket-nya yang besar itu terlepas.

“Ih, pelan-pelan. andaikan BH-ku rusak, emangnya kamu mau ganti,” lagi-lagi hidungku lantas sasaran. namun saya telah tidak hiraukan Sambil memeluknya mulutku langsung mengulum tokenya yang sebelah kanan.

Mbak Viona tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusap-usap rambutku. aku makin lama bersemangat saja, mulutku semakin rajin menggarap toketnya sebelah kanan dan kiri bergantian. Kukulum, kumainkan bersama dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat seranganku yang makin lama intens itu Mbak Viona jadi menjerit-jerit kecil di sela-sela desahannya.

Beberapa menit kulakukan aksi yang terlampau dinikmati Mbak Viona itu, sebelum akan akhirnya dia mendorong kepalaku supaya terlepas berasal dari toketnya. Mbak Viona lantas membebaskan BH, kulot dan CD-nya yang juga berwarna hitam. sementara bibirnya terlihat 1/2 terbuka sambil mendesi lirih dan matanya sudah jadi sayu, pertanda telah horny berat.

Belum sempat mataku menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya udah menggenggam rudalku. lantas Mbak Viona jalan mundur masuk kamar mandi sesaat rudalku ditariknya. aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa menyaksikan tingkah laku Mbak Viona itu.

Mbak Viona segera menutup pintu kamar mandi setelah kita sampai di didalam yang diteruskan bersama membangkitkan shower. Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari shower. Dan …

“mmmmhhhh …. “ bibirnya telah menyerbu bibirku dan melumatnya. Kuimbangi dengan aksi sama seterusnya siraman air shower mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan menempel ketat dan sesekali saling menggesek, ke-2 tangan mengusap-usap proporsi belakang tubuh pasangan, “Aaaaaahhh,” nikmat luar biasa.

Tak ingat berapa lama kita melakukan aksi seperti itu, kita melanjutkannya di dalam posisi duduk, tak ingat sama siapa yang jadi saya duduk Bersandar antara dinding kamar mandi, kali ku luruskan, sementar Mbak Viona duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai kamar mandi. lantas kurasakan Mbak Viona melepaskan bibirnya dari bibirku, pelahan menyusur ke bawah.

Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati leherku. setelah itu, dilanjutkan ke bawah kembali berhenti di dadaku. Sebelah kanan-kiri, lagi tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. lantas turun kembali ke bawah, ke perut, berhenti di pusar.

Tangannya menggenggam rudalku, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya tetap mempermainkan pusarku. suka di situ, turun lagi dan bijiku sekarang yang lantas sasaran. sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusap-usap kepala rudalku dengan lembut. aku hingga berkelojotan sambil mengerang-erang nikmati aksi Mbak Viona yang seperti itu.

Pelahan-lahan bibirnya merayap naik menyusuri batang rudalku, dan berhenti di proporsi kepala, sementara tangannya pindah menggenggam pembagian batang. Kepala rudalku dikulumnya, dijilati, berpindah dan berputar-putar, agar tak satu bagianpun yang terlewat.

Beberapa disaat kemudian kutekan kepala Mbak Viona ke bawah, sehingga pembagian batanku pun masuk 2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahan-lahan, berulang-kali kadang waktu aksinya berhenti sejenak di pembagian kepala, dijilati lagi kemudian diteruskan naik turun lagi.

Pertahananku nyaris jebol, akan tetapi saya belum ingin berjalan disaat itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, namun Mbak Viona layaknya melawan. hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya saya berhasil mengangkat kepalanya dan melepaskan rudalku berasal dari mulutnya.

Kuangkat kepala Mbak Viona, sementara matanya terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya. Pelan-pelan kurebahkan Mbak Viona yang tetap memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih sambil mulutku melahap kedua toketnya, sesaat tanganku meremasnya bergantian.

Erangannya, desahannya, jeritan-jeritan kecilnya bersahut-sahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan kembali mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, sedangkan tercukur dan tertib rapi.

Beberapa kali kugigit pelan bulu-bulu itu, supaya pemiliknya menggelinjang ke kanan kiri. lantas kupisahkan ke-2 pahanya yang putih,besar dan empuk itu. Kubuka lebar-lebar. Kudaratkan bibirku di bibir memeknya, kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuk-tusukan pelan ke daging menonjol di antar belahan memek Mbak Viona.

Pantat Mbak Viona menjadi bergoyang-goyang pelahan, sesaat tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, dikarenakan jambakannya lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang memeknya, ku keluar masukkan dengan pelan. Desisan Mbak Viona semakin panjang, dan sempat ku lirik matanya tetap terpejam.

Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang memeknya, tetapi tangannya segera meraih tanganku yang namun beraksi itu dan menahannya. Kupelankan ulang dan Mbak membiarkan tangannya dari tanganku. setiap kupercepat ulang tangan Mbak Viona beroleh tanganku ulang sehingga kelanjutannya saya menyadari dia semata-mata ingin jariku bergerak pelahan di didalam memeknya.

Beberapa menit kemudian kurasakan Mbak Viona mengangkat kepalaku menghindari dari memeknya. Mbak Viona membuka mata dan berikan tanda padaku agar duduk bersangga di dinding kamar mandi. selanjutnya merayap ke atasku, mengangkang pas di depanku. Tangannya mendapatkan rudalku, diarahkan dan dimasukkan ke di dalam lubang memeknya.

“Oooooooooooohh ,” Mbak Viona melenguh panjang dan matanya kembali terpejam dikala rudalku masuk semuanya ke didalam memeknya. Mbak Viona merasa bergerak naik-turun pelahan sambil sesekali pinggulnya buat gerakan memutar.

Aku tidak sabar hadapi aksi Mbak Viona yang menurutku terlampau pelahan itu, mulai kusodok-sodokkan rudalku dari bawah bersama lumayan cepat. Mbak Viona menghentikan gerakannya, tangannya menghimpit dadaku lumayan kuat sambil kepala menggeleng, layaknya melarangku lakukan aksi sodok itu.

Hal itu terjadi sebagian kali, yang kenyataannya membuatku agak kecewa, sampai kelanjutannya Mbak Viona buka matanya, tangannya mengusap ke-2 mataku layaknya menyuruhkan memejamkan mata. saya menurut dan memejamkan mataku.

Setelah beberapa dikala aku memejamkan mata, aku terasa dapat perhatikan bersama telingaku apa yang dari tadi tidak kuperhatikan, saya terasa dapat merasakan apa yang berasal dari tadi tidak kurasakan. Desahan dan erangan Mbak Viona ternyata amat rutin dan serasi bersama dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, nada alat kelamin kita yang menyatu dan suara siraman air shower layaknya sebuah harmoni yang begitu indah. dalam keterpejaman mata itu, aku layaknya melayang-layang dan sekelilingku menjadi begitu indah, seperti nama wanita yang sedangkan menyatu denganku.

Kenikmatan yang kurasakan pun menjadi lain, bukan kenikmatan luar biasa yang menhentak-hentak, tetapi kenikmatan yang sedikit-sedikit, seperti mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap hingga ke ulu hatiku.

Beberapa menit lantas gerakan Mbak Viona berhenti kala dikala rudalku amblas semuanya datang lebih kurang 5 detik dia diam saja di dalam posisi layaknya itu. lantas kedua tangannya mendapatkan kedua tanganku sambil melontarkan kepalanya ke belakang.

Kubuka mataku, kupegang kuat-kuat kedua telapak tangannya dan kutahan agar Mbak Viona tidak jatuh ke belakang. setelah itu pantatnya bikin gerakan ke kanan-kiri dan mulai menekan-nekan rudal dan pantatku.

“Aaa .. aaaaaa … aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,” desahan dan jeritan kecil Mbak Viona itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke depan. Mbak Viona menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk tubukku, namun kepalanya berharap di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan kubelai-belai Mbak Viona yang baru saja nikmati orgasmenya. Sebuah langkah orgasme yang eksotik dan artistik.

Setelah bahagia meresapi kenikmatan yang baru diraihnya, Mbak Viona mengangkat kepala dan buka matanya. Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut. Belum sempat aku membalas ciumannya, Mbak Viona sudah bangkit dan berganti ke samping. langsung kubimbing dia supaya rebahan dan telentang di lantai kamar mandi.

Mbak Viona memerhatikan kemauanku sambil tetap menatapku bersama dengan senyum yang tidak dulu terlepas berasal dari bibirnya. kemudian kuarahkan rudalku yang rasanya seperti empot-empotkan ke lubang memeknya, kumasukkan segalanya sehabis amblas semua nya Mbak Viona memelekku sambil berbisik pelan.

“Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat,” saya mengangguk pelan memahami maksudnya. setelah itu menjadi kugoyang-goyang pantatku pelan-pelan sambil kupejamkan mata. aku pengen merasakan lagi kenikmatan yang sedikit-sedikit tapi meresap hingga ke ulu hati seperti pada mulanya akan tetapi aku gagal, meski sebagian lama coba pada akhirnya aku buat gerakan seperti biasa, layaknya yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Nita. Bergerak maju mundur berasal dari pelan dan makin lama lama jadi cepat.

“Aaaah… Hoooohh,” saya hampir pada puncak, dan Mbak Viona cukup tangkas Didorongnya tubuhku agar rudalku lepas berasal dari memeknya.

Rupanya dia mengetahui tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. seterusnya tangannya mendapatkan rudalku sambil 1/2 bangun. Dikocok-kocoknya bersama gengaman yang cukup kuat, berikutnya saya berpindah ke depan supaya rudalku pas berada di atas perut Mbak Viona.

“Aaaaaaaah … aaaaaaahhh … crottt… crotttt ..,” beberapa kali spermaku muncrat membasahi dada dan perut Mbak Viona. aku merebahku tubuhku yang jadi lemas di samping Mbak Viona, sambil memandanginya yang asyik mengusap meratakan spermaku di tubuhnya.

“Hampir lupa ya?” lagi-lagi hidungku jadi sasarannya saat Mbak Viona mengucapkan kalimat itu.

Selama di bus didalam perjalanan pulang aku memejamkan mata sambil mengingat-ingat pengalaman yang baru saja ku bakal berasal dari Mbak Viona. disaat di kamar mandi, dan disaat mengulang sekali kembali di kamarnya. Seorang wanita bersama dengan tipe bersetubuh yang begitu lembut dan penuh perasaan.

“Kalau sekedar mengejar kepuasan nafsu, itu gampang namun saya mau lebih. saya harap kepuasan nafsuku selaras dengan kepuasan yang menjadi di jiwaku.”

Kepuasan yang menjadi di jiwa, itulah perihal yang kudapat dari Mbak Viona dan sebatas berasal dari Mbak Viona, gara-gara kelak sesudah gonta-ganti pasangan, tetap saja belum dulu kudapatkan kenikmatan layaknya yang kudapatkan dari Mbak Viona. Kepuasan dan kenikmatan yang tetap menjadi di dalam jangka waktu yang memadai lama walaupun persetubuhan berakhir.

“Ingat ya, jangan pernah sekali-kali kamu lakukan sama Sarah. seandainya sampai kamu kerjakan saya tidak bakal dulu memaafkan kamu!” saya terbangun, rupanya dalam tidurku saya bermimpi Mbak Viona memperingatkanku tentang Sarah, adiknya. Dan bus pun udah terasa masuk terminal.

CeritaDewasa